Mapping Domain ke Blogger via Cloudflare: Kenapa Harus Lewat www?

Kalau yang kita hubungkan ke blogger adalah subdomain, lebih sederhana. Tidak melibatkan IP dan hanya menggunakan 2 buah CNAME.

Namun berbeda jika yang kita hubungkan domain sendiri. Memang terlihat sederhana di permukaan.  Namun sebenarnya lebih rumit. Alurnya melibatkan penyedia domain → Cloudflare → Blogger, sering muncul kebingungan, terutama saat HTTPS tidak langsung aktif atau muncul status “Tidak Diketahui” di Blogger.

Tulisan ini membahas proses tersebut secara utuh, termasuk alasan teknis kenapa Blogger harus menggunakan www, serta setting Cloudflare yang benar agar tidak saling “berantem” dengan Blogger.

Alur Besar: Registrar → Cloudflare → Blogger

Secara arsitektur, alurnya adalah sebagai berikut.

Domain dibeli dari registrar, kemudian nameserver diarahkan ke Cloudflare. Cloudflare di sini berfungsi sebagai pengelola DNS, bukan sebagai hosting. Dari Cloudflare, domain diarahkan ke Blogger, yang tetap menjadi web server dan pengelola konten utama.

Kesalahan paling sering terjadi ketika Cloudflare diposisikan terlalu “aktif”, padahal Blogger justru membutuhkan jalur yang bersih dan langsung. Selanjutnya »

Membuat File List di Nginx

Dulu saya pengguna Apache, apabila ada kebutuhan menampilkan daftar file di server dengan password sederhana sering menggunakan htaccess. Litespeed juga menggunakan htaccess. Namun kali ini server saya menggunakan Nginx.

Bagaimana jika menggunakan Nginx?

Jika meggunakan Nginx, kita harus melakukan konfigurasi di site-enable. Berikut caranya. Tested.

Jika Anda ingin membuat sebuah folder di server Nginx agar isi filenya bisa dilihat (directory listing) dan tetap aman dengan proteksi password, Anda bisa melakukannya dengan sangat mudah. Pada panduan ini kita akan membuat sebuah folder bernama direktorikamu, menampilkan daftar file di dalamnya, dan memberikan proteksi username + password. Selanjutnya »

Serba Serbi PHP Lama

Server tempat hosting saya mengalami kerusakan SSD. Padahal saya menaruh skrip disitu karena masih mendukung PHP 5.6.

Kalau SSD rusak tentu saja restore backup. Dan biasanya tidak sempurna. PHP 5.6 tidak ada, error PHP tidak bisa keluar dan sebagainya. Akhirnya sayalah yang harus mengalah. Menyesuaikan skrip dengan PHP 7.2, yang paling dekat dengan  PHP 5.6 dan yang tersedia di server.

Untungnya dulu skrip dibuat menggunakan layer DB sehingga ketika harus pindah dari mysql_query ke mysqli_query segalahnya menjadi mudah.

Karena tidak ada error yang keluar di server akhirnya saya terpaksa menjalankannya di komputer lokal. Saya install php 7.4  dan dengan menggunakan internal server php error menjadi lebih mudah diketahui.

/usr/bin/php7.5 -S localhost:7000

Ternyata hasilnya skrip keluar semua karena pada waktu itu saya masih banyak menggunakan short_open_tag. Hadeh …

Dan ternyata ada caranya :
/usr/bin/php7.4 -d short_open_tag=1 -S localhost:7000

Dan Skrip pun berjalan dengan baik.

Sudah Berumur, Pakai yang Simpel Saja

Dulu saya sangat suka mendandani Linux, namun sekarang, asal enak digunakan, bungkus 🙂

Saya sendiri menggunakan Linux Berbasis Ubuntu, menggunakan XFCE tanpa banyak ornamen. Simpel. Saya sudah nyaman dengan itu hehehe

Pakai style Windows 95, XP, Windows 7, Windows 10 dimana menu ada di bawah  sehingga tidak riweh dengan tab browser  yang ada diatas.