TLDRAW Whiteboard, Apa Bedanya dengan Excalidraw?

Saat pertama kali membuka tldraw, rasanya hampir otomatis kita berkata dalam hati: “Ini mirip Excalidraw.”

Dan memang tidak keliru. Cara menggunakannya pun nyaris sama. Kita bisa langsung menggambar kotak, panah, menulis teks, dan mencoret-coret ide di kanvas yang luas. Untuk kebutuhan menuangkan pikiran secara visual, tldraw bekerja sebagaimana Excalidraw bekerja. Tidak perlu penyesuaian yang aneh-aneh. Duduk, buka, gambar.

Namun, semakin lama digunakan, perbedaan keduanya mulai terasa. Bukan perbedaan yang mencolok di permukaan, tetapi perbedaan niat di balik pembuatannya.

Excalidraw terasa seperti papan tulis digital yang sengaja dibuat “tidak terlalu rapi”. Garis-garisnya sedikit goyah, font-nya menyerupai tulisan tangan, dan keseluruhan tampilannya memberi kesan bahwa ini adalah ruang berpikir, bukan ruang pamer hasil akhir. Ada rasa manusia di sana. Diagram yang dibuat terasa seperti catatan di buku, bukan desain presentasi. Dan justru karena itulah Excalidraw terasa nyaman dipakai untuk berpikir.

Font di Excalidraw, meskipun sederhana, terasa lebih hangat dan enak dipandang saat digunakan untuk diskusi atau menjelaskan sesuatu ke orang lain. Ditambah lagi, Excalidraw sudah menyediakan library elemen. Ini hal kecil, tapi sangat membantu. Kita bisa menggunakan kembali simbol-simbol yang sama tanpa harus menggambar ulang. Alur berpikir tidak terputus hanya karena urusan teknis.

Di sisi lain, tldraw terasa lebih bersih dan lebih modern. Font-nya rapi, tampilannya netral, dan kesannya lebih “produk digital”. Bukan berarti dingin, tapi jelas berbeda rasa. Saat ini, tldraw juga belum memiliki konsep library seperti Excalidraw. Menggambar di tldraw lebih bebas, tetapi juga lebih mentah. Kita benar-benar mulai dari kanvas kosong, tanpa banyak elemen siap pakai.

Perbedaan ini menjadi semakin jelas ketika kita melihat tujuan jangka panjangnya. Excalidraw terasa dibuat terutama untuk manusia yang sedang berpikir. Ia menemani proses, bukan mengejar hasil akhir. Ia tidak memaksa rapi, karena ide memang sering kali belum rapi.

Sementara tldraw terasa dirancang sebagai fondasi teknologi. Ia bukan sekadar alat gambar, melainkan mesin kanvas. Sesuatu yang bisa ditanam ke dalam aplikasi lain, dikembangkan lewat kode, dan dijadikan bagian dari sistem yang lebih besar. Di sini, tldraw tidak berusaha meniru papan tulis manusia, tetapi membangun infrastruktur visual yang stabil dan fleksibel.

Karena itu, pertanyaan “mana yang lebih baik” sebenarnya kurang tepat. Yang lebih tepat adalah: kita sedang ingin melakukan apa.

Jika tujuannya adalah berpikir, berdiskusi, menjelaskan ide, atau memetakan konsep dengan cepat dan manusiawi, Excalidraw terasa lebih pas. Ia tidak mengintimidasi, tidak terlalu formal, dan memberi ruang bagi ide untuk tumbuh apa adanya.

Namun jika tujuannya adalah membangun produk, sistem, atau aplikasi yang membutuhkan kanvas interaktif sebagai fitur, tldraw menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Ia bukan hanya alat yang dipakai, tetapi fondasi yang bisa dikembangkan.

Pada akhirnya, Excalidraw dan tldraw tidak sedang berlomba. Mereka berjalan di jalur yang berbeda. Excalidraw mendekat ke cara manusia berpikir, sementara tldraw mendekat ke cara sistem bekerja. Dan kita, sebagai manusia yang sering berada di antara dua dunia itu, tinggal memilih sesuai kebutuhan hari ini.

Anti WordPress dengan Antigrafity

Kemarin saya mengalami kejadian yang cukup bikin kaget, sekaligus jadi bahan renungan panjang. Salah satu situs yang saya bangun dengan WordPress tiba-tiba diblokir oleh Google karena terdeteksi mengandung malware. Padahal, kalau dipikir-pikir, situs ini bukan situs aktif dengan update harian, bukan e-commerce, bukan pula portal berita.

Situs ini hanyalah situs jualan online dengan konsep yang hanya menyajikan informasi produk saja. Dan produk yang dijual juga jarang sekali berubah.

Setelah saya cek ulang, isinya bahkan tidak lebih dari 20 halaman. Halaman-halaman statis seperti profil, layanan, kontak, dan beberapa informasi yang sejak awal memang jarang—bahkan hampir tidak pernah—diubah. Informasinya ya itu-itu saja.

Tapi justru situs sesederhana ini yang akhirnya “kena masalah”. Selanjutnya »

Transformasi ke Web Modern

Teknologi web lama sudah mulaa ditinggalkan. Dan sekarang mau tidak mau harus mulai melakukan transformasi ke web modern.

Tidak mudah bagi pengembang web lama yang sudah terbiasa dengan gaya lama bertransformasi ke web modern. Web modern totality javascripts.

Sebenarnya konsep dasar web modern seperti ini:

Yang paling penting pada langkah awal adalah bagaimana mempelajari Frontend Javascript seperti Vue. Untuk backend, kalau belum menguasai Javascript, masih bisa menggunakan PHP.

Jadi sekarang kamu mengerti kan?

Membuat PHP MVC Framework menggunakan AI

Sekarang jaman AI, tapi terus terang, baru sebulan ini serius menggunakan AI untuk coding. Sebelum-sebelumnya belum kena feelnya. Masih sebatas saya minta buat kelas dan fungsi ini itu.

Setelah saya ketemu dengan beberapa orang programmer yang mendemonstrasikan penggunaan  windsurf dan claude code, baru saya ngeh bahwa AI bisa digunakan lebih dari itu.

Pertama saya iseng minta dibuatkan aplikasi notes dan calendar sederhana dengan MVC. Hasilnya, sangat bagus. Lalu saya kepikiran untuk menyusun framework step by step. Karena ketika saya menggunakan framework yang ada sekarang, sering tidak mudah menjalankannya. Sering menjumpai error karena kesalahan setting, dan kalau eror karena frameworknya sudah kompleks maka saya sering kesulitan mencari solusinya.

Saya minta AI mengerjakan:

  • Struktur dasar MVC
  • Database Model menggunakan Illuminate/database
  • View menggunakan blade
  • Routing
  • Validation
  • Logging

Dan lain lain, yang membuat pada akhirnya malah mirip CI atau Laravel. Saya kira mungkin karena AI belajar pada code framework-framework modern, sehingga hasilnya jadi mirip-mirip.

Manajemen Data Sederhana

Baru-baru ini saya ditunjuk sebagai sekretaris sebuah organisasi. Dan satu hal yang paling krusial adalah Data. Saya harus mempunyai basis informasi yang bisa saya akses kapanpun dan dimanapun.

Maka, kita harus mempuat aplikasi yang memenuhi kriteria sbb:

  1. Aplikasi berbasis online (yg murah menggunakan PHP)
  2. Bisa menyimpan segala bentuk file (semacam file browser)
  3. File Browser itu harus bisa setidaknya menampilkan gambar, text dan turunannya.
  4. Ada fasilitas untuk membrowse sqlite
  5. File tidak ditaruh di bawah www folder yang bisa diakses langsung dari internet.

Maka saya meminta chatGPT untuk membuatkan satu halaman index untuk login dan halaman home  sederhana. Dan menggunakan aplikasi yang sudah jadi untuk keperluan diatas dengans edikit modifikasi

  1.  Saya menggunakan https://tinyfilemanager.github.io/ untuk web file browser dengan sedikit modifikasi karena app ini tidak bisa membaca gambar yang lokasinya tidak dibawah public folder. Kedua saya memodifikasi agar tampilan csv bukan tampilan text biasa namun tampil dalam tampilan https://datatables.net/  agar bisa di short dan browse.
  2. Saya mendefinisikan lokasi sqlite dan semua data penting yang fleksibel untuk diambil informasi edit dan delete saya taruh di file sqlite yang saya akses dengan https://www.phpliteadmin.org/

Kedua aplikasi itu loginnya ganti dengan login yang saya buat lewat bantuan ChatGPT. Dengan aplikasi ini jelas, hidup saya menjadi lebih mudah.

Tinggal nanti bagaimana menyempurnakan aplikasi ini agar bisa digunakan oleh staff saya.