Ketika AI Menjadi Agen: Disrupsi Besar di Balik Agentic AI

Beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari rekomendasi film, pengenalan wajah, chatbot layanan pelanggan, hingga analisis data bisnis. Namun, hampir semua AI yang kita kenal selama ini memiliki satu kesamaan penting: mereka bersifat reaktif. AI bekerja ketika diminta, menjawab ketika ditanya, dan berhenti saat tugas selesai. Di titik inilah muncul lompatan baru yang disebut Agentic AI.

Agentic AI adalah pendekatan AI yang tidak lagi sekadar merespons perintah, tetapi mampu bertindak sebagai agen yang mandiri. Ia memiliki tujuan, dapat merencanakan langkah-langkah untuk mencapai tujuan tersebut, mengeksekusi tindakan, mengevaluasi hasilnya, lalu menyesuaikan strategi secara berulang. Dengan kata lain, Agentic AI tidak hanya “pintar menjawab”, tetapi juga “pintar mengambil keputusan dan bertindak”. Selanjutnya »

TLDRAW Whiteboard, Apa Bedanya dengan Excalidraw?

Saat pertama kali membuka tldraw, rasanya hampir otomatis kita berkata dalam hati: “Ini mirip Excalidraw.”

Dan memang tidak keliru. Cara menggunakannya pun nyaris sama. Kita bisa langsung menggambar kotak, panah, menulis teks, dan mencoret-coret ide di kanvas yang luas. Untuk kebutuhan menuangkan pikiran secara visual, tldraw bekerja sebagaimana Excalidraw bekerja. Tidak perlu penyesuaian yang aneh-aneh. Duduk, buka, gambar.

Namun, semakin lama digunakan, perbedaan keduanya mulai terasa. Bukan perbedaan yang mencolok di permukaan, tetapi perbedaan niat di balik pembuatannya.

Excalidraw terasa seperti papan tulis digital yang sengaja dibuat “tidak terlalu rapi”. Garis-garisnya sedikit goyah, font-nya menyerupai tulisan tangan, dan keseluruhan tampilannya memberi kesan bahwa ini adalah ruang berpikir, bukan ruang pamer hasil akhir. Ada rasa manusia di sana. Diagram yang dibuat terasa seperti catatan di buku, bukan desain presentasi. Dan justru karena itulah Excalidraw terasa nyaman dipakai untuk berpikir.

Font di Excalidraw, meskipun sederhana, terasa lebih hangat dan enak dipandang saat digunakan untuk diskusi atau menjelaskan sesuatu ke orang lain. Ditambah lagi, Excalidraw sudah menyediakan library elemen. Ini hal kecil, tapi sangat membantu. Kita bisa menggunakan kembali simbol-simbol yang sama tanpa harus menggambar ulang. Alur berpikir tidak terputus hanya karena urusan teknis.

Di sisi lain, tldraw terasa lebih bersih dan lebih modern. Font-nya rapi, tampilannya netral, dan kesannya lebih “produk digital”. Bukan berarti dingin, tapi jelas berbeda rasa. Saat ini, tldraw juga belum memiliki konsep library seperti Excalidraw. Menggambar di tldraw lebih bebas, tetapi juga lebih mentah. Kita benar-benar mulai dari kanvas kosong, tanpa banyak elemen siap pakai.

Perbedaan ini menjadi semakin jelas ketika kita melihat tujuan jangka panjangnya. Excalidraw terasa dibuat terutama untuk manusia yang sedang berpikir. Ia menemani proses, bukan mengejar hasil akhir. Ia tidak memaksa rapi, karena ide memang sering kali belum rapi.

Sementara tldraw terasa dirancang sebagai fondasi teknologi. Ia bukan sekadar alat gambar, melainkan mesin kanvas. Sesuatu yang bisa ditanam ke dalam aplikasi lain, dikembangkan lewat kode, dan dijadikan bagian dari sistem yang lebih besar. Di sini, tldraw tidak berusaha meniru papan tulis manusia, tetapi membangun infrastruktur visual yang stabil dan fleksibel.

Karena itu, pertanyaan “mana yang lebih baik” sebenarnya kurang tepat. Yang lebih tepat adalah: kita sedang ingin melakukan apa.

Jika tujuannya adalah berpikir, berdiskusi, menjelaskan ide, atau memetakan konsep dengan cepat dan manusiawi, Excalidraw terasa lebih pas. Ia tidak mengintimidasi, tidak terlalu formal, dan memberi ruang bagi ide untuk tumbuh apa adanya.

Namun jika tujuannya adalah membangun produk, sistem, atau aplikasi yang membutuhkan kanvas interaktif sebagai fitur, tldraw menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Ia bukan hanya alat yang dipakai, tetapi fondasi yang bisa dikembangkan.

Pada akhirnya, Excalidraw dan tldraw tidak sedang berlomba. Mereka berjalan di jalur yang berbeda. Excalidraw mendekat ke cara manusia berpikir, sementara tldraw mendekat ke cara sistem bekerja. Dan kita, sebagai manusia yang sering berada di antara dua dunia itu, tinggal memilih sesuai kebutuhan hari ini.

Renungan Seorang Developer Tua :)

Ada satu fase yang hampir pasti dialami developer yang usianya sudah melewati 40 tahun atau bahkan sudah 50 tahun. Fase ketika kita mulai sadar bahwa masalah utama kita bukan lagi kurang belajar, tapi terlalu banyak belajar tanpa arah.

Di usia ini, teknologi tidak melambat. Justru sebaliknya. Ia makin bising.

JavaScript terus melahirkan framework baru. Frontend sekarang seperti laboratorium eksperimen tanpa jam istirahat. Ada Next.js, Remix, SvelteKit, Astro, Hono, Bun, Deno, edge runtime, server action, island architecture. Semua terlihat canggih. Semua terlihat menjanjikan. Dan jujur saja, semuanya terasa melelahkan.

Di backend, kita melihat pemandangan serupa.

PHP masih di sana. Masih dipakai. Masih menghasilkan uang. Tapi Laravel makin hari makin kompleks. Indah, rapi, penuh keajaiban—dan penuh jebakan bagi yang tidak benar-benar paham. Di saat yang sama, Go dan Rust naik daun. Go terlihat sederhana dan cepat. Rust terlihat serius dan aman. Banyak developer 40+ yang diam-diam bertanya: “Apa saya harus pindah?”

Pertanyaan itu wajar.

Tapi di usia ini, mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah: “Untuk apa?”

Karena di titik ini, kita sudah tidak lagi belajar demi rasa penasaran semata. Kita belajar sambil membawa beban: tanggung jawab keluarga, proyek yang harus selesai, sistem yang harus stabil, dan energi yang tidak lagi tak terbatas.

Masalahnya, banyak dari kita masih bersikap seperti developer usia 20-an. Mengejar semua tren. Takut ketinggalan. Takut dianggap usang. Padahal realitasnya berbeda.

Di usia 40+, kedalaman jauh lebih berharga daripada kecepatan.

Kita tidak butuh sepuluh framework di kepala. Kita butuh satu atau dua yang benar-benar kita pahami sampai ke akar. Bukan sekadar bisa pakai, tapi tahu risikonya. Tahu batasnya. Tahu kapan harus berkata: “Ini cukup.”

Frontend modern, misalnya. Kita tidak harus menguasai semuanya. Tapi kita perlu memahami problem intinya: state, async, rendering, performance, dan maintainability. Framework boleh berganti, tapi masalah dasarnya itu-itu saja.

Backend pun sama.

Laravel, Go, Rust—semuanya alat. Yang menentukan kualitas sistem bukan bahasanya, tapi keputusan teknis di baliknya. Salah desain tetap salah, walau ditulis dengan bahasa yang sedang naik daun.

Maka, bagaimana seharusnya bersikap sebagai developer 40+?

Pertama, berdamai dengan kenyataan bahwa kita tidak perlu tahu semuanya.

Ini bukan menyerah. Ini memilih. Kita memilih fokus. Kita memilih energi kita dipakai untuk hal yang berdampak nyata.

Kedua, jadikan teknologi baru sebagai cermin, bukan tujuan.

Belajar Go untuk memahami kesederhanaan concurrency. Belajar Rust untuk memahami pentingnya safety. Belajar framework frontend baru untuk melihat pendekatan berbeda. Tapi tidak harus pindah stack setiap kali ada yang viral.

Ketiga, ukur keberhasilan dari keberlanjutan, bukan kekinian.

Sistem yang bisa dirawat lima tahun ke depan lebih berharga daripada sistem yang terlihat futuristik hari ini tapi menyiksa besok.

Keempat, manfaatkan satu keunggulan yang tidak dimiliki developer muda: pengalaman.

Kita pernah melihat teknologi datang dan pergi. Kita tahu bahwa hype selalu berulang dengan nama baru. Pengalaman ini bukan beban—ini kompas.

Dan terakhir, izinkan diri kita untuk berkata jujur:

“Saya tidak ingin menjadi developer yang tahu semuanya. Saya ingin menjadi developer yang bisa diandalkan.”

Di usia 40+, mungkin tujuan kita bukan lagi menjadi yang paling update, tapi yang paling stabil.

Dan justru di situlah nilai kita sebenarnya.

WordPress dalam Pandangan Programmer Jaman Now

Pertanyaan tentang arsitektur WordPress hampir selalu muncul dari developer yang sudah cukup lama berkutat di dunia web. Biasanya, pertanyaan ini lahir setelah berinteraksi dengan framework yang lebih “tertib”: Laravel dengan MVC-nya, CodeIgniter yang relatif rapi, atau bahkan pendekatan clean architecture yang tegas memisahkan tanggung jawab.

Lalu saat kembali membuka WordPress—melihat fungsi global, hook berseliweran, logic bercampur di theme—muncullah satu kesimpulan spontan: ini kok berantakan sekali?

Secara jujur, kesimpulan itu tidak sepenuhnya salah.

WordPress memang bukan contoh arsitektur modern yang lahir dari buku teks rekayasa perangkat lunak. Ia lahir pada masa PHP masih sangat prosedural, ketika standar belum mapan, dan ketika tujuan utamanya bukan membangun sistem yang “indah”, melainkan membuat orang bisa menulis di internet dengan mudah. Warisan masa itu masih sangat terasa sampai hari ini. Variabel global, fungsi tanpa namespace, dan alur eksekusi yang sulit ditelusuri bukanlah kecelakaan, melainkan jejak sejarah.

Masalahnya, kita sering menilai WordPress dengan kacamata yang keliru. Kita memperlakukannya seolah-olah ia adalah framework, padahal WordPress sejak awal adalah sebuah produk. Ia bukan alat untuk membangun CMS lain, tapi CMS itu sendiri. Maka ia tidak pernah memaksa penggunanya untuk patuh pada pola tertentu. Tidak ada larangan keras mencampur logika dengan tampilan. Tidak ada polisi arsitektur yang akan menghentikan kita menulis query langsung di template. Yang penting: halaman tampil, konten terbit, dan pengguna bisa bekerja.

Di sinilah konflik batin developer biasanya muncul. Di satu sisi, naluri teknis kita memberontak melihat kekacauan struktur. Di sisi lain, kita tidak bisa menyangkal satu fakta penting: WordPress bekerja. Ia dipakai jutaan orang, menopang bisnis nyata, dan bertahan lebih dari dua dekade tanpa memutus kompatibilitas masa lalu.

Sistem hook WordPress adalah contoh paling jelas dari paradoks ini. Ia sangat fleksibel, sangat kuat, dan sekaligus sangat membingungkan. Dengan hook, siapa pun bisa mengubah perilaku sistem tanpa menyentuh core. Tapi ketika proyek membesar, melacak siapa memodifikasi apa sering kali menjadi pekerjaan melelahkan. Bagi pemula, ini terasa seperti sihir. Bagi developer berpengalaman, ini sering terasa seperti hutan tanpa peta.

Namun justru di situlah letak keberhasilan WordPress. Ia tidak dibangun untuk menyenangkan arsitek software, melainkan untuk melayani pengguna sebanyak mungkin. Backward compatibility dijaga mati-matian. Plugin lama tetap hidup. Tema usang tidak tiba-tiba rusak. Stabilitas ekosistem lebih penting daripada keindahan struktur internal.

Apakah ini berarti WordPress tidak bisa dibuat lebih rapi? Tentu bisa. Dengan disiplin, WordPress dapat diperlakukan sebagai “mesin”, sementara arsitektur kita bangun sendiri di dalam plugin. Logika dipisahkan, OOP diterapkan, theme difokuskan pada tampilan. Tapi semua itu adalah pilihan sadar developer, bukan kewajiban yang dipaksakan oleh sistem.

Maka, ketika ditanya apakah arsitektur WordPress itu berantakan, jawabannya tergantung dari sudut pandang. Jika diukur dengan standar arsitektur modern, jawabannya cenderung iya. Tapi jika diukur dari kemampuannya bertahan, beradaptasi, dan digunakan oleh orang dengan latar belakang yang sangat beragam, WordPress justru menunjukkan kecerdasan desain yang berbeda.

WordPress bukan sistem yang rapi secara akademis.
Ia adalah sistem yang sangat pragmatis.

Dan dalam dunia nyata, sering kali yang bertahan bukanlah yang paling indah strukturnya, melainkan yang paling bisa dipakai oleh banyak orang.

Cara Efektif Membangun Aplikasi menggunakan AI dengan 6 Langkah

Tadi saya Youtube walking,  entah apa istilahnya ya, kalau dulu populer blog walking. Saya menemukan postingan di Youtube dengan judul  “Cara pake AI untuk ngoding app Fullstack” .

Beberapa waktu ini sebenarnya saya sudah melakukannya. Sebelum membuat coding saya membuat alurnya melalui diskusi dengan AI sehingga menghasilkan dokumen. Dokumen itu lantas saya gunakan sebagai panduan untuk memerintah AI membuat kode program.

Kalau saya biasanya memberi instruksi kepada AI dengan cara langkah demi langkah, sambil saya mempelajari apa yang sedang dia lakukan. Tidak langsung terima jadi sebagaimana yang ada di video ini.

Btw, semua adalah pilihan, ambil cara yang efektif saja. Dari video itu saya meminta notebook LM agar menstrukturkannya sehingga menjadi tulisan. Sekaligus, dengan konversi ini ada proses belajar di dalamnya. Silahkan! Selanjutnya »