Cara Menjalankan Banyak Versi PHP di Satu Komputer (PHP Multi Version Setup) di Linux

Sebagai developer, sering kali kita harus berpindah antar versi PHP. Misalnya, proyek lama masih jalan di PHP 7.4, sementara proyek baru sudah pakai PHP 8.3.

Kalau di Windows mungkin kamu akrab dengan Laragon, namun di Linux tidak ada Laragon.

Nah, kalau kamu ingin bisa menjalankan banyak versi PHP di satu sistem, berikut panduan sederhana yang bisa kamu ikuti. Selanjutnya »

Memahami BIOS, MBR, GRUB, dan EFI untuk Pecinta Dual Boot

Pernah ingin memasang Windows dan Linux dalam satu komputer, tapi bingung dengan istilah seperti BIOS, EFI, MBR, GRUB, dan teman-temannya?

Tenang, kamu tidak sendiri. Dunia sistem booting memang terdengar teknis, tapi sebenarnya bisa dijelaskan dengan bahasa yang mudah dan sedikit humor 😄

Saya beberapa hari kemarin juga membuat dual booting untuk Windows dan Linux. Saya sebelumnya adalah pengguna Windows, namun dengan dimatikannya dukungan ke Windows 10, akhirnya saya sekalian pindah ke Linux saja.  Lagipula ukuran “Drive C” saya membesar dalam ukuran yang tidak masuk akal, hampir 100MB.

Agak bingung juga sih, karena lama gak instalasi dual booting. Akhirnya saya melakukan partisi disk kedua untuk Linux seperti ini.

Mari kita bahas pelan-pelan. Selanjutnya »

Sudah Berumur, Pakai yang Simpel Saja

Dulu saya sangat suka mendandani Linux, namun sekarang, asal enak digunakan, bungkus 🙂

Saya sendiri menggunakan Linux Berbasis Ubuntu, menggunakan XFCE tanpa banyak ornamen. Simpel. Saya sudah nyaman dengan itu hehehe

Pakai style Windows 95, XP, Windows 7, Windows 10 dimana menu ada di bawah  sehingga tidak riweh dengan tab browser  yang ada diatas.

Bikin XFCE Jadi Keren dan Ringan ala MacOS

 

Beberapa hari ini saya mencoba menggunakan AnduinOS yang diklaim mirip Windows 11. Namun saya merasa kurang mendapatkan kenyamanan. Beberapa kali terjadi aplikasi berjalan agak berat. Akhirnya saya terpaksa menginstall Windows Environment paling enteng: XFCE dan melakukan modifikasi biar lebih nyaman digunakan.

XFCE memang terkenal sebagai salah satu DE paling enteng di Linux — cocok buat laptop lawas, PC kentang, atau bahkan kamu yang cuma pengen sistem cepet tanpa ribet.

Tapi biar tampilannya nggak “biasa aja”, XFCE ini bisa banget di-custom biar mirip kayak macOS. Gaya elegan, tapi tetap ringan. Nah, berikut ini resepnya 👇

1. Install Plank – Dock Keren Ala Mac

Plank itu semacam dock yang mirip banget sama yang ada di macOS. Kamu bisa taruh aplikasi favorit di situ, biar gampang dibuka dan kelihatan kece di layar.

sudo apt install plank

2. Tambahin Teleporty Biar Dock Bisa Hover

Kalau mau efek dock-nya melayang kayak di Mac, kamu bisa pakai Teleporty. Dengan ini, Plank bakal punya efek hover yang halus — bikin tampilan makin hidup.

3. Ganti Menu Jadi Whisker Menu

Menu standar XFCE agak jadul tampilannya. Nah, coba ganti pakai Whisker Menu. Lebih modern dan ada fitur search-nya juga, jadi tinggal ketik aja nama aplikasi.

sudo apt install xfce4-whiskermenu-plugin

4. Tambah Ulauncher – Cari Aplikasi Sekilas Kilat

Kalau kamu suka yang praktis, install Ulauncher. Cukup tekan shortcut (biasanya Ctrl + Space) terus ketik nama aplikasi. Cepat, ringan, dan berasa pakai Spotlight-nya Mac!

sudo apt install ulauncher

5. Pasang Tema dan Icon Mac

Supaya nuansanya makin dapet, pasang tema macOS dan icon pack-nya. Banyak yang bisa kamu unduh dari xfce-look.org, tinggal pilih yang mirip macOS Big Sur atau Sonoma.

Beberapa rekomendasi:

  • Tema: WhiteSur GTK Theme
  • Icon: WhiteSur Icon Pack

6. Wallpaper Wajib: Nuansa Mac

Sentuhan terakhir, jangan lupa pasang wallpaper khas macOS. Tinggal cari di Google “macOS wallpaper 4K” — dijamin bikin XFCE kamu kelihatan kayak Mac beneran ✨

Penutup

Nah, itu dia cara simpel buat bikin XFCE jadi tampil keren ala Mac, tapi tetap ringan dan responsif. Cocok buat kamu yang pengen tampilan elegan tanpa bikin RAM nangis 😆

Kalau kamu udah coba, jangan lupa share hasil custom XFCE kamu ya — siapa tahu malah lebih keren dari Mac asli! 🍏

Saatnya Beralih ke JavaScript: Dari Backend sampai Frontend!

Beberapa tahun lalu, JavaScript cuma dikenal sebagai “bahasa pemanis” di browser. Tapi sekarang? Wah, JavaScript udah jadi pemain utama di dunia web development — dari backend, frontend, sampai ke tools build yang super ngebut!

Nah, kalau kamu masih stuck di PHP, Python, atau bahkan Java untuk bikin web app, mungkin ini saat yang pas buat nyicipin ekosistem baru yang makin keren: Bun + Hono di backend dan Vite + Vue di frontend.

Backend Modern: Bun + Hono

Kalau kamu biasa pakai Node.js buat server-side JavaScript, kamu bakal suka banget sama Bun. Bun ini bukan cuma runtime kayak Node, tapi juga udah satu paket sama bundler, transpiler, dan package manager-nya sendiri. Jadi, kamu gak perlu install npm, webpack, atau babel lagi — semua udah di-handle sama Bun.

Keunggulan Bun:

  • ⚡ Super cepat (serius, benchmark-nya bisa 3–4x lebih cepat dari Node)
  • 📦 Sudah termasuk package manager (bun install itu cepet banget!)
  • 🧰 Built-in bundler dan transpiler
  • 💡 Support TypeScript tanpa konfigurasi ribet

Nah, buat framework-nya, ada Hono — web framework yang ringan banget (hanya beberapa kilobyte), tapi fiturnya lengkap kayak Express.js, bahkan lebih cepat.

Contohnya, bikin server sederhana pakai Bun + Hono:

import { Hono } from 'hono'
const app = new Hono()
app.get('/', (c) => c.text('Hello from Bun + Hono!'))
app.fire()

Jalankan aja dengan:

bun run index.js

Boom! Backend kamu udah siap jalan dalam hitungan detik.

Kalau kamu ingin mendalami lebih dalam penggunaan bun + hono, silahkan meluncur ke blog Youtube Pak Eko 🙂

 Frontend Kekinian: Vite + Vue

Sekarang kita pindah ke sisi depan alias frontend. Kalau dulu kita pakai Webpack dan setup-nya bikin stres, sekarang ada Vite — alat build buatan Evan You (pencipta Vue). Vite tuh bisa dibilang developer experience heaven — instant reload, super cepat, dan konfigurasi minimalis.

Dan ngomong-ngomong soal Evan You, tentu gak lengkap kalau gak bahas Vue.js. Vue masih jadi salah satu framework paling enak buat dipelajari dan dikerjakan. Syntax-nya bersih, komponennya rapi, dan cocok banget dipasangkan sama Vite.

Setup-nya pun gampang banget:

npm create vite@latest my-app -- --template vue
cd my-app
npm install
npm run dev

Langsung bisa coding di browser dengan hot reload yang secepat kedipan mata. ⚡

Kombinasi Mantap

Bayangin: Backend kamu jalan pakai Bun + Hono — cepat, ringan, dan modern. Frontend kamu pakai Vite + Vue — reaktif, interaktif, dan mudah dikembangkan.

1.  Silahkan belajar lebih jauh vite disini.
2. Silahkan belajar lebih lanjut vue disini.

Semuanya JavaScript. Satu bahasa untuk dua dunia. Belajar sekali, bisa bikin full-stack web app tanpa harus gonta-ganti syntax dan paradigma.

Kesimpulan

Dunia web development terus bergerak. Dan JavaScript sekarang bukan cuma tentang DOM dan event listener lagi — tapi tentang performa, modularitas, dan efisiensi.

Kalau kamu pengen ngerasain sensasi coding modern tanpa ribet setup sana-sini, Bun + Hono + Vite + Vue adalah kombinasi yang wajib kamu coba. Siap-siap jatuh cinta sama kecepatannya ❤️