Sebagai developer web yang sudah cukup lama berkutat dengan PHP, MySQL, jQuery, dan Bootstrap, saya tumbuh di era di mana jQuery adalah senjata utama. Hampir semua interaksi UI saya tulis dengan sintaks jQuery. Ringkas, jelas, dan cepat jadi.
Namun seiring waktu—terutama sejak Bootstrap 5 hadir—saya mulai sering bertanya ke diri sendiri:
Apakah jQuery masih penting hari ini?
Tulisan ini adalah refleksi pribadi saya, berdasarkan pengalaman nyata mengerjakan proyek lama dan baru, bukan sekadar mengikuti tren.
Kenapa Saya Sangat Nyaman dengan jQuery?
Jawabannya sederhana: jQuery itu ramah manusia.
Dulu JavaScript terasa ribet:
- Perbedaan perilaku antar browser
- DOM API panjang dan tidak konsisten
- AJAX tidak sesederhana sekarang
jQuery datang sebagai penyelamat.
$('.btn').click(fn);
Satu baris, langsung kebayang apa yang terjadi. Bandingkan dengan JavaScript modern:
document.querySelectorAll('.btn')
.forEach(btn => btn.addEventListener('click', fn));
Bukan berarti yang kanan salah. Tapi secara ergonomi kode, jQuery memang lebih ringkas dan enak dibaca.
Kenyataan yang Harus Saya Terima
Seiring berkembangnya browser dan JavaScript, banyak masalah yang dulu diselesaikan jQuery sudah tidak relevan lagi.
Titik balik terbesar bagi saya adalah saat:
- Bootstrap 3 → wajib jQuery
- Bootstrap 4 → mulai mengurangi
- Bootstrap 5 → lepas total dari jQuery
Ini bukan keputusan kecil. Artinya ekosistem UI modern sudah siap hidup tanpa jQuery.
Apakah Skill jQuery Saya Jadi Tidak Berguna?
Awalnya saya sempat khawatir. Tapi setelah dipikir ulang, saya sadar, yang saya kuasai dari jQuery sebenarnya adalah:
- Cara berpikir event-driven
- Manipulasi DOM
- Event delegation
- Alur komunikasi data (AJAX)
Semua itu tetap relevan. Yang berubah hanyalah lapisan sintaksnya.
Perbandingan Jujur: jQuery vs JavaScript Modern
| Aspek | jQuery | JavaScript Modern |
|---|---|---|
| Sintaks | Sangat ringkas | Lebih verbose |
| Readability | Tinggi | Tinggi |
| Dependency | Perlu library | Native |
| Performa | Lebih berat | Lebih ringan |
| Masa depan | Legacy | Lebih panjang |
Kesimpulan pribadi saya: jQuery nyaman, tapi JavaScript modern lebih aman untuk jangka panjang.
Jalan Tengah yang Saya Pilih
Saya tidak ingin membuang kebiasaan lama, tapi juga tidak ingin terjebak di masa lalu. Maka saya memilih pendekatan ini:
Tetap berpikir ala jQuery, tapi menulis dengan JavaScript modern.
Mini-library “jQuery Rasa Modern”
Untuk kebutuhan harian, saya membuat helper kecil seperti ini:
const $ = (s, c = document) => c.querySelector(s);
const $$ = (s, c = document) => [...c.querySelectorAll(s)];
$.on = (event, sel, handler, ctx = document) => {
ctx.addEventListener(event, e => {
if (e.target.closest(sel)) handler.call(e.target, e);
});
};
$.ready = fn =>
document.readyState !== 'loading'
? fn()
: document.addEventListener('DOMContentLoaded', fn);
Dengan ini, cara berpikir saya tetap jQuery, tapi runtime-nya sudah modern dan ringan.
Alternatif Profesional yang Bisa Dipakai
Kalau tidak ingin menulis sendiri, saya juga menemukan beberapa library profesional yang menawarkan API jQuery-like tapi modern:
- Cash DOM – paling mirip jQuery, ringan
- Umbrella JS – minimalis dan bersih
- Zepto – modular, fokus mobile
- Bliss – utility modern
Library ini cocok untuk proyek Bootstrap 5 atau Laravel tanpa harus membawa jQuery penuh.
Kapan Saya Masih Memakai jQuery?
Saya pribadi masih memakai jQuery jika:
- Maintenance proyek lama
- AdminLTE 2 / 3
- Plugin legacy yang belum ada pengganti
Namun untuk proyek baru, saya berhenti menambahkan jQuery sebagai dependency.
Penutup
Bagi saya, jQuery tidak mati. Ia hanya tidak lagi berada di pusat ekosistem.
Skill jQuery yang saya pelajari bertahun-tahun tidak sia-sia. Ia berevolusi menjadi pemahaman DOM dan event yang lebih dalam.
Saya tetap berpikir dengan mental model jQuery, tapi berjalan di atas fondasi JavaScript modern.
Dan menurut saya, itu adalah evolusi yang wajar bagi seorang developer.
Jika Anda berada di fase yang sama—merasa “terlanjur hafal jQuery”—percayalah, Anda tidak tertinggal. Anda hanya sedang naik level.

