Setelah HTTP-public, kini SSH-public

Keisengan saya untuk mengutak-utik STB Server dan Cludflare nampaknya membuahkan hasil. Setelah sebelumnya bisa mengonlinekan blog ini tanpa menggunakan IP Public, sekarang bisa melakukan akses SSH secara remote dari internet walaupun saat ini masih menggunakan bantuan web browser.

Masih banyak yang harus di explore. Tapi sementara ini, dengan bisa mengonlinekan http, dan melakukan akses secara penuh ke SSH melalui jaringan internet, cukuplah. Dengan ini saja sudah banyak hal yang bisa dikerjakan. Mengonlinekan aplikasi, membuat file server yang bisa diakses secara online, dan banyak hal lain.

Tapi ngomong-ngomong, saking berlikunya jalan yang saya lalui untuk bisa berhasil seperti ini, nampaknya untuk mengulangnya kembali belum tentu selancar yang dibayangkan. Tapi kira-kira ya pasti berhasil hehehe…

Teknologi Blog ini

Blog ini adalah sebuah eksperimen. Tidak saya host di sebuah web hosting, namun saya tempatkan pada STB HG680P bekas yang saya taruh di ruang tengah.

Bekas TV Box dengan processor ARM ini selain saya gunakan untuk rupa-rupa keperluan, salah satunya adalah untuk menjalankan blog ini.

Beberapa Teknologi yang saya gunakan untuk menjalankan blog ini adalah:

  1. Menggunakan Linux ARMBian + Nginx . Saya jarang menggunakan Nginx dan agak bingung untuk mengaturnya agar mempunyai URL yang bagus, tapi untuk sementara gak apa apalah.
  2. Menggunakan CMS WordPress. Walaupun sebenarnya sudah tahunan tidak menggunakan CMS ini tapi saya gunakan lagi karena paling mudah digunakan. Sebenarnya saya hanya butuh CMS yang sederhana saja. Mungkin PHP SQLite. Namun saya tidak menemukan yang cukup layak digunakan. Saya melakukan penyesuaian-penyesuaian yang memakan waktu tidak sebentar agar dia bisa berjalan tanpa error.
  3. Saya menggunakan teknologi cloudflare zero trush  agar aplikasi yang sebenarnya lokal bisa diakses secara global (online). Dengan teknologi ini, cloudflare dan server saya membuat semacam terowongan.

Sebelumnya saya  menggunakan Docker untuk menampung wordpress saya, namun penggunaan docker menurut saya terlalu membebani server kecil ini, sehingga akhirnya saya menggunakan cara biasa.

Demikian 🙂