Backup Armbian Dari MicroSD Card Menjadi Image File ( .img)

Kita bisa melakukan instalasi Armbian – atau linux yang lain juga bisa sih 🙂 – dari sebuah file instalasi berbentuk iso. Nah kebalikannya kita bisa juga melakukan backup dari system yang sudah ada menjadi iso.

Ini sangat menguntungkan ketika kita ingin membangun sistem Linux dimana dengan utility atau aplikasi yang kita tambahkan di dalamnya. Kita menyimpannya dalam file iso. Nanti jika kita membutuhkannya kita tinggal menginstall Linux menggunakan iso tersebut.

Dalam kasus STB-Armbian, kita  bisa melakukan langkah sbb:

  1. Install armbian
  2. Install aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan. Mungkin nginx, php, mysql, samba atau lainnya
  3. Cabut SDCard, dan jadikan file iso.

Di Windows  kita bisa meminta bantuan PowerISO untuk mengambil semua data dalam SDCard ke iso.

Video dibawah ini mungkin bisa menjelaskan maksud saya.

Woke, selamat mencoba!

Control Panel dan Docker

Kemarin mencoba install Hestia CP di processor Arm. Harapannya saya lebih mudah mengelola aplikasi-aplikasi berbasis web yang sudah banyak. Saya males pakai aaPanel di Arm karena tidak ada file binarinya, semuanya berbasis sources code yang harus dicompile. Butuh waktu lamma.

Karena Linux punya sistem sendiri dan panel-panelan juga punya sistem dengan fungsi yang sama,  maka ada resiko crash lah. Linux saya crash dan tidak bisa masuk console.

Akhirnya saya melakukan instalasi lagi dengan armbian basis Ubuntu 22 (jammy). Ubuntu 22 termasuk Ubuntu LTS yang akan di dukung sampai tahun 2027.

Kalau butuh Armbian 22 buat STB HG680P bisa download disini ya om.

Kesimpulan saya, kalau ingin pakai cara manual ya manuals ekalian seperti yang saya lakukan di server situs ini ya, atau yang lebih aman pakai docker aja biar tidak konflik dengan Linux hostnya. Bisa pakai casa OS atau install Docker + Portainer.

CasaOS, Docker Manager yang Simpel

Docker adalah penemuan menarik dalam virtualisasi. Sebelumnya kita mengenal VMWare, VirtualBox dan semacamnya. Sekarang kita mengenal Docker.

Antara VMWare dan Docker memang tidak bisa dibandingkan. VMWare adalah sistem operasi virtual yang berjalan diatas sistem operasi lain, namun pada Docker, “virtualisasinya” hanya pada level aplikasi. Ya dari sisi penggunaan resources, Docker tentu jauh lebih efisien.

Sebelumnya, saya belajar Docker dengan perintah “command line”. Tapi penyakit command line adalah perintahnya gampang terlupakan.

Akhirnya saya menemukan Portainer sebagai Docker Manager yang berjalan dengan antarmuka web.

Terakhir saya menemukan CasaOS. Walaupun belakangnya ada tulisan OS, namun casaos ini bukan operating system, namun hanya Docker Manager seperti Portainer. Lebih sederhana, tapi memang kurang advanced sebagaimana Portainer. Hebatnya, CasaOS mendukung proccessor arm juga.

Kemenangan CasaOS ada pada tampilannya yang ciamik soro, dan proses managemen dan instalasi aplikasi yang sangat mudah.

Namun kelemahannya adalah fasilitas pengelolaan Docker yang sangat terbatas. Misalnya tidak ada fasilitas untuk menghentikan aplikasi yang berjalan pada Docker (container). Tidak ada fasilitas untuk menduplikat container, tidak ada fasilitas backup dan sebagainya.

Terpaksa pada akhirnya install Portainer pada CasaOS. Install docker manager pada docker manager hahaha.

Semua Portainer pada CasaOS dikenali sebagai bagian dari Docker, namun sebaliknya container yang kita install pada Portainer tidak dianggap sebagai aplikasi CasaOS.

Ada baiknya apabila kita ingin menduplikasi aplikasi pada CasaOS, simpan docker composenya, edit-edit dikit dan install kembali. Dan apabila ingin menghentikan container tertentu, masuk portainer dan stop container.

Ya, mudah-mudahan casaOS versi berikutnya menyediakan start stop container dan clone container.

Happy

 

ARM Server Nggak Panel-Panelan

Saya mengelola arm server (server-serveran) dan server utama saya menggunakan prosesor arm. Mayoritas server menggunakan prosesor intel sehingga mayoritas aplikasi dicompile dalam arsitektur intel.

Lebih baik mana arm dan intel? Saya tak ingin membandingkannya. Saya menggunakan arm karena murah dan hemat energi. Dan server yang saya gunakan hanya server rumahan saja.

Nah, saya pernah mencoba melakukan instalasi aaPanel di server arm. Berjalan dengan baik walaupun instalasinya harus dengan cara compile satu-satu. Tapi kemarin waktu saya upgrade dari versi 6 ke 7 terjadi crash, yang saya capek memperbaikinya dan akhirnya saya hapusssss….

Lalu saya ingin mencoba menggunakan panel lain, cyber panel, Mmm ternyata nggak sesederhana itu. Ubuntu arm 21 tidak disupport dan ada informasi cyberpanel versi arm tidak akan dilanjutkan.

Akhirnya, gunakan cara manual saja. Tapi, memang menggunakan cara manual itu walaupun hemat resources, namun capekkk. Saran saya jika ingin lebih enak, gunakan docker aja.

Saya sudah mencoba menggunakan CasaOS untuk mengelola file docker saya, dan hasilnya mantabbb!

Samba yang Menjengkelkan

Samba. Sebuah aplikasi yang digunakan untuk sharing file  yang memungkinkan Windows mengakses file di Linux dengan cara mudah. Walaupun letaknya pada server Linux, namun seakan-akan sudah seperti drive sendiri. Istilah mudahnya Windows File Sharing yang disediakan Linux.

Sebagai aplikasi yang ada sejak jaman 1992 tentu aplikasi ini tidak semudah aplikasi yang dibangun saat ini. Namun tetap belum ada yang bisa menandinginya. Samba dianggap sebagai aplikasi paling memenuhi kebutuhan walaupun konfigurasinya sulit karena berbasis text. Yah, walaupun saat ini terbantu dengan adanya interface pada webmin, namun ya masih tetap rumit 🙁

Hampir semalaman saya gagal membuat windows bisa login menggunakan Samba ini.

Saya menggunakan Webmin untuk melakukan setting, karena saya tidak hafal perintah textnya. Namun dengan berbagai variasi setting ternyata tetap gagal. Windows tidak bisa login.

Karenanya, saya menggunakan 2 mode untuk konfigurasi Samba version 4.15.13-Ubuntu ini yaitu melalui webmin dan pada /etc/samba/samba.conf

Ok, berikut text hasil konfigurasinya:

#==== global =====
[global]
    workgroup = WORKGROUP
    server string = %h server (Samba, Ubuntu)
    log file = /var/log/samba/log.%m
    max log size = 1000
    syslog = 0
    panic action = /usr/share/samba/panic-action %d
    server role = standalone server
    obey pam restrictions = yes
    unix password sync = yes
    passwd program = /usr/bin/passwd %u
    passwd chat = *Enter\snew\s*\spassword:* %n\n *Retype\snew\s*\spassword:* %n\n *password\supdated\ssuccessfully* .
    pam password change = yes
    map to guest = bad user
    usershare allow guests = yes

#============================ Share Definitions ==============================

[datashare]
    path = /mnt/hdd1/datashare
    browseable = yes
    read only = no
    guest ok = yes

[dataprivate]
    path = /mnt/hdd1/dataprivate
    browseable = yes
    read only = no
    guest ok = no

dan ini perintah text yang harus kamu inget-inget ya, karena setting lewat webmin kadang tidak lancar. Perintahnya sdh bener tapi nggak jalan 🙁

  1. Menghapus user
    sudo smbpasswd -x user1
  2. Menambah user
    sudo smbpasswd -a user1
  3. Cek user aktif
    sudo pdbedit -L (tambahin -v kalau ingin lihat detailnya)
  4. Restart Samba
    sudo systemctl restart smbd nmbd
    atau
    sudo service smbd restart
  5. Cek status Samba
    sudo service smbd status
  6. Cek login Samba (tapi install dulu samba cliennya ya kak :)) Utk mengetahui apakah Samba bisa digunakan untuk login.
    sudo smbclient -L localhost -U user1
  7. Cek user dan akrtifitas Samba
    sudo smbstatus
  8. General checkup
    sudo smbd -i -d 3

Yang jadi persoalan kemarin malam bukan karena konfigurasi saya salah, tapi jadi bisa setelah iseng usernya saya hapus dan saya tambahkan lagi. Lihat point 1 dan 2. Kamu gak perlu khawatir karena menghapus user samba tidak secara otomatis menghapus user linux. Bahkan kita bisa membuat user samba tanpa harus ada user linuxnya. Hasyuuuuu ….

Kalau ada pengalaman yg lebih menggembirakan bisa dikomen2 ya om 🙂